Beranda Daerah Dalem Pancaniti, Sang Filsuf Sunda yang Terlupakan: Den Agung Ungkap Warisan Besar...

Dalem Pancaniti, Sang Filsuf Sunda yang Terlupakan: Den Agung Ungkap Warisan Besar di Balik Lahirnya Konsep Pancaniti

R.A.A. Kusumahningrat (dox istimea Den Agung)

Publikbogornews.com – Di balik syahdunya alunan Tembang Cianjuran, tersimpan kisah seorang pemimpin yang tak hanya membangun kebudayaan, tetapi juga meletakkan fondasi cara berpikir masyarakat Sunda.

Dialah R.A.A. Kusumahningrat, atau yang lebih dikenal sebagai Dalem Pancaniti, Bupati Cianjur ke-10 yang dikenang sebagai pelopor seni Tembang Cianjuran sekaligus orang Sunda pertama yang menyusun kamus dwibahasa Melayu-Sunda.

Namun, menurut budayawan dan pemerhati sejarah Den Agung, jasa terbesar Dalem Pancaniti justru bukan hanya pada karya seninya, melainkan pada lahirnya konsep Pancaniti, sebuah metode pembelajaran yang hingga kini masih relevan digunakan untuk memahami sejarah secara mendalam.

R.A.A. Kusumahningrat (dox istimea Den Agung)

“Pancaniti bukan sekadar nama sebuah ruangan di Pendopo Cianjur. Ia adalah konsep berpikir yang diwariskan Dalem Pancaniti agar setiap ilmu dipahami secara utuh, kritis, dan bijaksana. Bahkan sekarang metode ini sering dijadikan pisau bedah dalam mengkaji sejarah,” ujar Den Agung. Saat wawancara eksklusif bersama Publikbogornews.com pada Selasa, 30 Juni 2026.

Baca Juga :  Kerangka Diduga Anggota Polri Korban Tsunami Ditemukan di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh

Kisah Dalem Pancaniti bermula dari seorang anak bernama Raden Hasan, lahir pada 1834. Sejak kecil, ayahnya mengirimnya ke berbagai pesantren, salah satunya Pesantren Cigawir di Limbangan, untuk memperdalam ilmu agama.

Di saat bersamaan, ia juga mempelajari pantun Sunda dan seni gamelan degung bersama saudara-saudaranya di bawah bimbingan R. Wasitareja.

Perjalanan intelektual yang memadukan agama, sastra, dan seni itu kemudian membentuk sosok pemimpin yang berbeda. Saat dipercaya menjadi Bupati Cianjur, ia dikenal gemar menyendiri di sebuah paviliun di lingkungan Pendopo Cianjur bernama Pancaniti.

Baca Juga :  Bupati Rudy Susmanto Dorong Percepatan Pengembangan Wilayah Timur Kabupaten Bogor

Di tempat itulah ia bekerja, bertafakur, sekaligus melahirkan berbagai gagasan yang kelak menjadi warisan besar bagi Tanah Sunda.

Menurut Den Agung, dari ruang sederhana tersebut lahir konsep Pancaniti, sebuah metode pembelajaran yang mengajarkan pentingnya memahami persoalan secara menyeluruh sebelum mengambil kesimpulan.

“Jauh sebelum metode penelitian modern berkembang, leluhur Sunda sudah memiliki pendekatan ilmiah melalui Pancaniti. Karena itu, warisan Dalem Pancaniti bukan hanya budaya, tetapi juga peradaban intelektual Sunda,” jelasnya.

Selain dikenal sebagai pemikir, Dalem Pancaniti juga berhasil mengangkat martabat budaya Sunda melalui pengembangan Tembang Cianjuran, seni musik yang hingga kini menjadi identitas budaya Jawa Barat.

Ia juga mencatat sejarah sebagai orang Sunda pertama yang menyusun kamus dwibahasa Melayu-Sunda, sebuah karya monumental yang memperkuat perkembangan bahasa dan literasi pada masanya.

Baca Juga :  Udang Jadi Menu Utama Program Makan Bergizi Gratis di Bangka Belitung

Setelah wafat pada 1862, perjuangannya diteruskan putranya, Raden Alibasyah, yang kemudian menjadi R.A.A. Prawiradireja II, sehingga tradisi Tembang Cianjuran terus berkembang lintas generasi.

Bagi Den Agung, sudah saatnya masyarakat memandang Dalem Pancaniti bukan sekadar tokoh seni, melainkan seorang filsuf, pendidik, sekaligus arsitek pemikiran Sunda yang telah mewariskan metode memahami ilmu pengetahuan secara kritis.

“Kalau hari ini kita ingin membaca sejarah dengan benar, maka belajarlah kepada Dalem Pancaniti. Sejarah bukan hanya soal mengingat masa lalu, tetapi tentang memahami nilai dan kebijaksanaan yang ditinggalkan para leluhur,” pungkas Den Agung.***

Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakKeluarga Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Pemkab Bogor Perkuat Ketahanan Generasi
Artikulli tjetërBudaya Bukan Kostum, Sejarah Bukan Hafalan