Beranda Berita Terkini Usulan Nama Baru Pendopo Jasinga Dipersoalkan, Didin Ra Dien: Jangan Hapus Sejarah...

Usulan Nama Baru Pendopo Jasinga Dipersoalkan, Didin Ra Dien: Jangan Hapus Sejarah Demi Glorifikasi Figur

Publikbogornews.com – Usulan pergantian nama Pendopo Eks Kewedanaan Jasinga menjadi Sasana Budaya Kahfi menuai sorotan tajam.

Penamaan baru itu dinilai bukan sekadar perubahan nama, melainkan berpotensi menggeser identitas sejarah bangunan yang selama ini menjadi simbol pemerintahan dan jejak peradaban lokal di Jasinga.

Pemuda dari Jaringan Kebudayaan Rakyat, Didin Ra Dien, menyebut penamaan tersebut patut dikritisi karena mengandung persoalan historis sekaligus membuka kesan adanya kepentingan personal dalam ruang kebudayaan publik.

Baca Juga :  Duel Panas di Metropolitano, Atletico vs Barcelona Jadi Penentu Tiket Semifinal

Menurut Didin, penggunaan dan penyematan kata “Kahfi” tidak secara tegas merujuk pada Raden Kahfi, namun justru menimbulkan tafsir yang kabur.

Di sisi lain, pendopo eks kewedanaan tersebut diyakini telah berdiri jauh sebelum era Bupati Bogor ke-3, sehingga melekatkan identitas bangunan bersejarah itu pada satu figur dinilai tidak proporsional.

“Kalau nama lama yang berbasis sejarah dihapus, lalu diganti dengan simbol yang cenderung personal, ini berbahaya. Bukan hanya menggeser makna, tetapi bisa menghapus memori kolektif masyarakat,” tegas Didin. (29/4/2026).

Baca Juga :  Tak Mampu Biaya dan Jaminan Kesehatan, Ibu di Palembang Melahirkan di Teras Musala

Ia menilai eks kewedanaan bukan bangunan biasa, melainkan penanda sejarah pemerintahan lokal yang memiliki nilai lebih tua dan lebih luas dibanding sekadar dikaitkan dengan tokoh tertentu. Karena itu, perubahan nama dinilai berpotensi mereduksi substansi sejarah Jasinga.

Didin juga menyoroti bahwa penamaan situs budaya seharusnya bertumpu pada jejak sejarah, bukan glorifikasi individu. Jika tidak, kebijakan itu justru berpotensi memutus mata rantai narasi sejarah yang diwariskan lintas generasi.

Baca Juga :  “Tahukah Kamu? Lingkaran Sempurna Ternyata Mustahil Ada di Dunia Nyata!”

“Ini bukan semata soal nama, ini soal narasi sejarah siapa yang dipertahankan dan siapa yang dihilangkan. Jangan sampai ruang budaya dijadikan alat membangun kultus figur,” ujarnya.

Polemik ini, lanjut Didin, harus menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat, sebab ketika nama historis dihapus, yang hilang bukan sekadar papan penanda, melainkan akar identitas Jasinga itu sendiri.

“Jangan sampai sejarah dikorbankan demi kepentingan sesaat,” pungkasnya.***

Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakKabupaten Bogor Tertinggi Kasus HIV di Jabar, Alarm Serius untuk Edukasi dan Penanganan
Artikulli tjetërKolaborasi Kampus, Sekolah, dan Seniman Luncurkan Buku Kearifan Lokal untuk Pendidikan Modern