Publikbogornews.com — Ketika banyak pihak sibuk berdebat tanpa solusi, mahasiswa justru datang membawa gagasan nyata. Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Tanah Air Koordinator Wilayah Bogor Raya menggelar audiensi dengan Bappedalitbang Kabupaten Bogor, Selasa (21/4/2026), di Kantor Bappedalitbang Kabupaten Bogor.
Pertemuan itu bukan sekadar seremonial penuh foto dan basa-basi. Mahasiswa membawa dua program strategis yang menyentuh luka lama di Kabupaten Bogor yakni lingkungan yang terus rusak dan kebudayaan yang mulai kehilangan arah.
Dua gagasan yang diajukan yakni Gerakan Mahasiswa Hijaukan Bogor serta Pendataan dan Penguatan Basis Data Kebudayaan Kabupaten Bogor.
Koordinator Wilayah Bogor Raya, Habib Permana, menegaskan program tersebut lahir dari kegelisahan mahasiswa melihat Bogor yang terus dihantui persoalan lingkungan dan mulai mengalami krisis identitas budaya.
“Sebagai mahasiswa, kami memiliki tanggung jawab sebagai agen perubahan dan kontrol sosial. Program ini menjadi bentuk nyata kontribusi kami untuk daerah, khususnya dalam menjaga lingkungan dan memperkuat identitas budaya,” ujarnya.
Pernyataan itu menohok banyak pihak. Sebab saat mahasiswa turun membawa solusi, sering kali yang lebih tua justru sibuk beralasan.
Saat generasi muda bicara penghijauan, masih ada yang sibuk menebang. Saat mahasiswa bicara data budaya, masih ada yang menganggap tradisi cukup dijadikan hiasan acara tahunan.
Di sisi lain, Bappedalitbang Kabupaten Bogor melalui Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM), Tika Mustika Effendi, menyambut positif usulan tersebut.
“Saya sangat mengapresiasi usulan ini. Programnya sangat relevan dengan kebutuhan daerah dan kami siap bersinergi dan berkolaborasi bersama mahasiswa,” ungkapnya.
Namun publik tentu berharap apresiasi tidak berhenti di ruang rapat. Karena Bogor tidak butuh tepuk tangan panjang, Bogor butuh pohon yang benar-benar ditanam, budaya yang benar-benar didata, dan kebijakan yang benar-benar dijalankan.
Audiensi ini menjadi titik awal yang penting. Mahasiswa sudah menunjukkan kepedulian. Kini giliran pemerintah membuktikan keberpihakan.
Sebab jika anak muda sudah bergerak, tetapi para pemangku kebijakan masih berjalan di tempat, maka yang tertinggal bukan hanya program—melainkan masa depan Bogor sendiri.***
Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow





































