Beranda Berita Terkini Banjir Bandang Pangaur Sisakan Tanya: Mengapa Baru 8 KK Dibantu?

Banjir Bandang Pangaur Sisakan Tanya: Mengapa Baru 8 KK Dibantu?

Publikbogornews — Banjir bandang yang menerjang Desa Pangaur, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, pada Sabtu (18/4) meninggalkan luka bagi puluhan warga.

Sebanyak 45 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak, namun hingga kini bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bogor baru menjangkau delapan keluarga.

Sementara, data Pemerintah Desa Pangaur menunjukkan seluruh warga terdampak membutuhkan bantuan pascabencana.

Meski begitu, paket sembako yang disalurkan baru sebatas delapan paket untuk keluarga yang masuk kategori kerusakan berat.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bogor, Farid Ma’ruf, menjelaskan keterbatasan distribusi terjadi karena bencana alam melanda banyak wilayah secara bersamaan.

Baca Juga :  Solidaritas Bergerak! KNPI Jasinga, Jurnalis, Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir-Longsor Pangaur dari CSR UBPE Antam Pongkor

“Ini kan banjir, hujan, longsor, angin serentak. Minggu lalu 16 kecamatan, minggu kemarin 19 kecamatan. Jadi korban terdampaknya banyak sekali,” ujarnya.

Menurut Farid, bantuan sementara diprioritaskan bagi warga yang rumahnya rusak berat dan harus mengungsi. Dari 45 KK di Pangaur, delapan keluarga masuk kategori tersebut.

“Itu yang kita utamakan terlebih dahulu,” jelasnya. Namun di tengah penjelasan itu, suara warga terdengar lebih keras daripada data di atas meja.

Baca Juga :  Ternyata Ini Rahasia Keutamaan Shalat Malam dalam Islam: Kamu Sudah Tahu?

Sebanyak 37 KK lain yang rumahnya rusak ringan mengaku belum mendapat perhatian nyata, padahal mereka sama-sama korban yang kehilangan rasa aman, harta benda, dan kepastian hidup.

“Apakah 37 KK di Desa Pangaur bukan korban yang layak mendapat perhatian pemerintah daerah?” keluh salah satu warga.

Pertanyaan itu menjadi tamparan bagi pola penanganan bencana yang kerap sibuk mengklasifikasi kerusakan, tetapi lambat menjangkau kebutuhan dasar masyarakat.

Sebab bagi warga yang rumahnya terendam lumpur, dapur rusak, dan pekerjaan terhenti, kerusakan “ringan” tak selalu berarti penderitaan yang ringan.

Baca Juga :  ATR/BPN Siapkan Anggaran 2027, Tekankan Efisiensi Tanpa Ganggu Layanan

Farid menambahkan, bantuan bagi warga dengan kerusakan ringan akan diberikan secara bertahap sambil menunggu penanganan wilayah lain.

Sementara untuk rumah rusak berat, Dinas Sosial akan berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) terkait skema bantuan lanjutan.

“Saat ini kami masih melakukan asesmen lanjutan untuk memastikan kebutuhan korban secara menyeluruh,” katanya.

Di saat pemerintah masih mengasesmen, warga Pangaur masih menunggu. Dan dalam situasi bencana, yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan rumah—tetapi merasa terlupakan.

Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakTrump Sebut Gencatan Senjata AS-Iran Jadi Kesempatan Isi Ulang Amunisi
Artikulli tjetërDimsum Ayam Homemade Jadi Primadona, Camilan Lezat Ala Resto yang Mudah Dibuat di Rumah