Publikbogor.com – Di tengah derasnya arus modernisasi, pembangunan sering kali hanya dimaknai sebagai pertumbuhan fisik dan ekonomi.
Padahal, sejarah mengajarkan bahwa sebuah peradaban tidak pernah berdiri kokoh hanya karena jalan yang mulus, gedung yang megah, atau investasi yang besar. Peradaban lahir dari manusia yang memiliki nilai, karakter, dan jati diri.
Atas dasar itulah, gagasan Dayeuh Padjajaran di Desa Sipak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor perlu dimaknai sebagai gerakan kebudayaan yang menghidupkan kembali falsafah Sunda sebagai fondasi pembangunan masyarakat.
Sebab, konsep Dayeuh Padjajaran bukan sekadar nama atau simbol sejarah, melainkan konsep membangun manusia dan peradaban yang berakar pada kearifan lokal.
Sebagai putra daerah Desa Sipak, saya memandang bahwa konsep tersebut harus bertumpu pada dua pilar utama, yakni Tri Tangtu di Nagari dan Tri Tangtu di Salira. Kamis, 23 Juli 2026.
Tri Tangtu di Nagari mengajarkan keseimbangan kehidupan sosial melalui tiga unsur yang saling menopang, yaitu ulama, umaro, dan syabab.
Ketiganya bukan kelompok yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan yang menjaga keberlangsungan peradaban.
Ulama menjadi penjaga nilai, akhlak, dan ilmu pengetahuan. Umaro memikul amanah menghadirkan keadilan, pelayanan, serta kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan rakyat.
Adapun syabab atau generasi muda adalah pewaris masa depan yang bertugas menjaga keberlanjutan nilai-nilai luhur di tengah perubahan zaman.
Pemikiran tersebut selaras dengan pesan Imam Al-Ghazali bahwa masa lalu adalah pelajaran, hari ini adalah harapan, dan esok adalah perjuangan.
Ulama merupakan representasi masa lalu yang menjadi guru kehidupan. Umaro adalah harapan hari ini yang menentukan arah perjalanan masyarakat. Sedangkan syabab merupakan perjuangan masa depan yang akan melanjutkan estafet peradaban.
Namun, membangun masyarakat tidak cukup hanya melalui struktur sosial. Yang lebih mendasar adalah membangun manusia dari dalam dirinya. Di sinilah Tri Tangtu di Salira menjadi substansi yang harus dihidupkan.
Pertama, Tekad, Ucap, Lampah. Setiap manusia harus memiliki keselarasan antara niat yang baik, perkataan yang jujur, dan tindakan yang nyata.
Sebab, peradaban runtuh bukan hanya karena kurangnya pemimpin, tetapi karena banyaknya ucapan yang tidak sejalan dengan perbuatan.
Kedua, Sir, Rasa, Pikir. Manusia dituntut mampu mengendalikan intuisi, emosi, dan nalar secara seimbang.
Keputusan yang lahir dari amarah akan melahirkan konflik, sedangkan keputusan yang dibangun melalui kebijaksanaan akan melahirkan harmoni.
Ketiga, Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh. Inilah inti kehidupan masyarakat Sunda. Saling mengasihi agar tumbuh empati, saling mengasah agar ilmu terus berkembang, dan saling mengayomi agar tidak ada seorang pun yang tertinggal. Nilai ini menjadi perekat sosial yang menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Bagi saya, Tri Tangtu di Nagari membangun tatanan masyarakat, sedangkan Tri Tangtu di Salira membangun karakter manusianya.
Keduanya tidak dapat dipisahkan. Peradaban yang baik lahir ketika masyarakat memiliki sistem yang sehat sekaligus pribadi-pribadi yang berintegritas.
Karena itu, Dayeuh Padjajaran di Desa Sipak seyogianya menjadi laboratorium kebudayaan yang mengintegrasikan sejarah, nilai spiritual, pendidikan, kepemimpinan, dan pemberdayaan generasi muda.
Desa ini dapat menjadi contoh bahwa pembangunan berbasis budaya bukanlah langkah mundur, melainkan strategi untuk menghadapi masa depan tanpa kehilangan identitas.
Sudah saatnya pembangunan tidak lagi hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga mengukur seberapa kuat karakter masyarakat yang dibangun.
Sebab, sebuah negeri tidak akan kehilangan masa depan karena miskin sumber daya alam. Negeri akan kehilangan masa depan ketika ulama tidak lagi menjadi cahaya, umaro kehilangan amanah, dan generasi muda tercerabut dari akar budayanya.
Dayeuh Padjajaran adalah ikhtiar untuk memastikan hal itu tidak terjadi. Sebuah ikhtiar agar Desa Sipak menjadi ruang lahirnya manusia yang utuh, masyarakat yang beradab, dan peradaban yang mampu memberi manfaat, bukan hanya bagi Jasinga dan Kabupaten Bogor, tetapi juga bagi Indonesia.

Argumentasi Filosofis: Mengapa Sipak Lebih Tepat Dimaknai sebagai Sipat Pakuan
Adanya Gagasan Dayeuh Padjajaran di Desa Sipak tidak dibangun hanya karena kesamaan bunyi nama tempat.
Gagasan ini lahir dari upaya membaca kembali identitas suatu wilayah melalui pendekatan sejarah, budaya, dan filosofi Sunda.
Dalam pandangan saya, Sipak dapat dimaknai sebagai Sipat Pakuan. Kata sipat mengandung makna sifat, karakter, atau ketetapan nilai yang menjadi ciri suatu kehidupan.
Sementara Pakuan berasal dari kata paku yang bermakna penyangga, pengokoh, atau pusat yang menjadi tempat bertumpunya kekuatan.
Dengan demikian, Sipat Pakuan dapat dipahami sebagai karakter atau ketetapan hidup yang saling mengokohkan dalam membangun peradaban.
Makna tersebut selaras dengan falsafah Sunda yang selalu menempatkan keseimbangan sebagai dasar kehidupan.
Kehidupan tidak dibangun oleh satu unsur, melainkan oleh harmoni berbagai unsur yang saling melengkapi.
Itulah yang kemudian diwujudkan dalam konsep Tri Tangtu di Nagari antara ulama, umaro, dan syabab, serta Tri Tangtu di Salira antara tekad, ucap, lampah. sir, rasa, pikir. serta silih asih, silih asah, silih asuh.
Karena itu, saya kurang sependapat apabila identitas Sipak dikaitkan dengan filosofi “Simpangan Kiyai.”
Persimpangan, dalam makna filosofis, menggambarkan kondisi seseorang yang sedang dihadapkan pada berbagai pilihan, bahkan kebingungan menentukan arah.
Sementara sebuah peradaban memerlukan kepastian nilai, keteguhan sikap, dan tujuan bersama. Peradaban tidak dibangun di persimpangan, tetapi dibangun di atas fondasi yang kokoh.
Atas dasar itulah, Sipat Pakuan saya tawarkan sebagai tafsir kebudayaan yang lebih relevan bagi Desa Sipak.
Bukan untuk menghapus narasi yang telah hidup di masyarakat, melainkan untuk memperkaya cara pandang bahwa Desa Sipak memiliki potensi menjadi simbol persatuan nilai, tempat ulama, umaro, dan syabab saling menguatkan, sekaligus ruang lahirnya manusia yang berkarakter.
Dengan demikian, Dayeuh Padjajaran bukan sekadar gagasan pembangunan desa, melainkan sebuah visi peradaban.
Sebuah ikhtiar mengembalikan pembangunan kepada ruhnya, yaitu membangun manusia, memperkuat budaya, dan menjaga nilai-nilai luhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.***
Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow






































