Beranda Berita Terkini Budaya Bukan Kostum, Sejarah Bukan Hafalan

Budaya Bukan Kostum, Sejarah Bukan Hafalan

Publikbogornews.com – Ada satu gejala yang semakin sering terlihat di negeri ini, dimana budaya diperlakukan seperti panggung sandiwara.

Cukup mengenakan pakaian adat, mengutip beberapa kalimat kuno, lalu berfoto di depan bangunan bersejarah, seolah seseorang telah sah menjadi budayawan.

Jika ukuran budayawan hanya sebatas busana, maka manekin di museum pun layak diberi gelar. Bahkan ondel-ondel yang setiap hari berdiri mengenakan pakaian tradisional bisa lebih dahulu diwisuda sebagai budayawan.

Padahal budaya tidak pernah tinggal di selembar kain. Ia hidup dalam cara berpikir, cara menghargai sesama, cara menjaga martabat, serta keberanian merawat nilai di tengah zaman yang terus berubah.

Budayawan bukan mereka yang sibuk mengoleksi simbol, melainkan mereka yang menghidupkan makna.

Baca Juga :  Nasi Goreng Kampung, Menu Sederhana dengan Cita Rasa Gurih dan Wangi

Ia tahu dari mana dirinya berasal, memahami akar peradabannya, lalu menjadikan pengetahuan itu sebagai tenaga untuk berkarya dan memberi manfaat. Budaya bukan alat mencari tepuk tangan, melainkan jalan mengabdi kepada kehidupan.

Ironisnya, semakin mudah orang menyebut dirinya budayawan, justru semakin sulit menemukan keteladanan yang lahir dari kebudayaan itu sendiri.

Banyak yang fasih berbicara tentang leluhur, tetapi gagap meneladani kebijaksanaan mereka. Pandai merawat benda pusaka, tetapi lupa menjaga keluhuran budi. Sibuk membanggakan masa lalu, tetapi abai terhadap masa depan.

Begitu pula dengan sejarah.

Sejarawan bukan mesin penghafal nama raja, silsilah, atau tanggal peperangan. Sebab buku perpustakaan pun mampu menyimpan semua itu tanpa pernah disebut sejarawan.

Baca Juga :  Gulai Daun Singkong, Sajian Rumahan Sederhana yang Kembali Jadi Favorit

Sejarawan sejati adalah mereka yang mampu memisahkan fakta dari mitos, menarik hikmah dari setiap peristiwa, lalu menghadirkannya sebagai cahaya bagi generasi yang hidup hari ini.

Sejarah bukan kumpulan cerita usang, melainkan laboratorium kehidupan tempat manusia belajar agar tidak jatuh ke lubang yang sama.

Bangsa yang kehilangan sejarah akan kehilangan arah. Namun bangsa yang hanya menghafal sejarah tanpa mengambil pelajaran, tidak lebih baik daripada mereka yang melupakannya.

Di tengah derasnya arus digital, budaya tidak membutuhkan lebih banyak aktor. Budaya membutuhkan penjaga. Sejarah tidak membutuhkan lebih banyak pendongeng. Sejarah membutuhkan penafsir yang jujur.

Baca Juga :  Resep Praktis Semur Daging Sapi, Lezat dan Menghangatkan Keluarga

Karena pada akhirnya, kebudayaan tidak diukur dari seberapa tua pakaian yang dikenakan, melainkan dari seberapa luhur akhlak yang dipertahankan.

Sejarah tidak dinilai dari banyaknya kisah yang dihafal, melainkan dari kebijaksanaan yang diwariskan.

Sebagaimana hikmah yang dinisbatkan kepada Imam Al-Ghazali, “Masa lalu adalah pelajaran, hari ini adalah kesempatan, dan esok adalah harapan.”

Maka jangan biarkan budaya berhenti menjadi kostum, dan jangan biarkan sejarah berakhir sebagai hafalan.

Sebab peradaban tidak dibangun oleh mereka yang pandai berpura-pura mencintai masa lalu, tetapi oleh mereka yang mampu menjadikan masa lalu sebagai fondasi untuk melahirkan masa depan.***

Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakDalem Pancaniti, Sang Filsuf Sunda yang Terlupakan: Den Agung Ungkap Warisan Besar di Balik Lahirnya Konsep Pancaniti
Artikulli tjetërBelanda Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Maroko Menang Dramatis Lewat Adu Penalti