Publikbogornews.com – Setiap tahun, peringatan Hari Lingkungan Hidup selalu diramaikan dengan aksi bersih-bersih sungai, jalan, taman, hingga penanaman pohon.
Foto-foto gotong royong beredar luas di media sosial, memperlihatkan kepedulian terhadap alam dan lingkungan.
Namun di balik semangat seremonial tersebut, masih tersimpan persoalan mendasar yang belum terselesaikan, yakni rendahnya kesadaran sosial budaya dalam menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Lingkungan hidup sejatinya bukan hanya soal pohon, sungai, atau udara bersih. Lingkungan juga mencakup perilaku manusia yang berinteraksi dengan alam.
Dalam konsep lingkungan hidup, terdapat unsur biotik, abiotik, dan sosial budaya yang saling memengaruhi keberlangsungan kehidupan.
Ironisnya, aspek sosial budaya justru menjadi titik lemah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, membakar sampah di pekarangan, membuang limbah ke saluran air, hingga sikap abai terhadap kebersihan fasilitas umum masih kerap ditemukan di berbagai daerah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan semata-mata kurangnya kegiatan bersih-bersih, melainkan belum tumbuhnya budaya disiplin dan rasa tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan.
Tidak sedikit orang yang ikut kerja bakti membersihkan lingkungan saat ada kegiatan resmi, tetapi kembali membuang bungkus makanan di jalan, membiarkan sampah menumpuk di selokan, atau menganggap kebersihan sebagai tanggung jawab orang lain.
Padahal, lingkungan yang bersih lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari, bukan hanya dari kegiatan massal yang berlangsung beberapa jam dalam setahun.
Hari Lingkungan Hidup seharusnya menjadi momentum refleksi bahwa ancaman terbesar bagi lingkungan bukan hanya pencemaran dan perubahan iklim, tetapi juga perilaku manusia yang belum menjadikan kebersihan sebagai bagian dari budaya hidup.
Jika kesadaran sosial budaya terus tertinggal, maka aksi bersih-bersih tahunan hanya akan menjadi rutinitas seremonial.
Lingkungan akan kembali kotor setelah spanduk peringatan diturunkan, sementara sampah dan kebiasaan buruk tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan soal seberapa sering menggelar kegiatan bersih-bersih. Melainkan, seberapa kuat masyarakat membangun budaya malu membuang sampah sembarangan dan budaya peduli terhadap ruang hidup bersama.
Karena lingkungan yang sehat tidak lahir dari slogan, tetapi dari perilaku.***
Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow







































