Publikbogornews.com – Deru mesin kendaraan yang membelah jalanan perbukitan pada Selasa (2/6/2026) seakan membawa ratusan peserta kembali ke masa puluhan tahun silam.
Bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan perjalanan menyusuri jejak perjuangan para pendiri Kabupaten Bogor yang rela meninggalkan kenyamanan demi menjaga pemerintahan tetap berdiri di tengah ancaman perang.
Dalam rangka Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544, Pemerintah Kabupaten Bogor bersama Pengcab IMI Kabupaten Bogor menggelar kegiatan Napak Tilas Sejarah Kabupaten Bogor.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Kabupaten Bogor yang hari ini tumbuh maju dan berkembang, lahir dari perjuangan panjang yang penuh pengorbanan.
Perjalanan dimulai dari Pendopo Kawedanaan Jasinga, bangunan tua yang menyimpan banyak cerita perjuangan.
Di tempat inilah sejarah mencatat bagaimana roda pemerintahan terus bergerak meski Indonesia yang
baru merdeka masih menghadapi berbagai ancaman.
Dari Jasinga, rombongan bergerak menyusuri jalur yang dahulu dilalui Bupati pertama Bogor, Raden Ipik Gandamana. Jalan yang kini dapat dilalui kendaraan, dahulu merupakan rute penuh tantangan yang ditempuh untuk memastikan rakyat tetap mendapat pelayanan dan pemerintahan tetap berjalan.

Saat melintasi Kampung Ciparengpeng, Cijairin, Ciear hingga Kampung Jamang di Desa Cisarua, peserta diajak membayangkan bagaimana beratnya perjuangan para pendahulu.
Di Kampung Jamang, terdapat salah satu rumah yang pernah menjadi tempat persinggahan Raden Ipik Gandamana ketika memimpin Kabupaten Bogor di masa-masa sulit.
Namun napak tilas ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Di sepanjang perjalanan, rombongan juga membawa kepedulian kepada masyarakat dengan menyalurkan sekitar 400 paket sembako.
Sebuah pesan sederhana bahwa perjuangan para pendahulu harus diteruskan melalui tindakan nyata yang memberi manfaat bagi sesama.
Perjalanan kemudian berakhir di Pendopo Malasari, tempat yang menjadi saksi bagaimana pemerintahan Kabupaten Bogor pernah dijalankan dalam kondisi darurat pada tahun 1948 – 1949
Bangunan sederhana yang dahulu menjadi tempat berlindung sekaligus pusat pemerintahan itu kini berdiri sebagai pengingat bahwa sejarah besar sering lahir dari tempat-tempat yang sederhana.
Ketua Pengcab IMI Kabupaten Bogor, Aan Triana Al Mharom, mengatakan kegiatan ini digelar agar masyarakat tidak melupakan sejarah daerahnya sendiri.
“Napak tilas ini merupakan bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada para pendahulu yang telah berjuang serta mengorbankan segalanya untuk Kabupaten Bogor,” ujarnya.
Di usia Kabupaten Bogor yang ke-544 tahun, napak tilas ini seolah mengajarkan satu hal penting, kemajuan yang dinikmati hari ini tidak datang begitu saja.
Ada jejak langkah para pejuang yang harus dikenang, ada pengorbanan yang tidak boleh dilupakan, dan ada semangat yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab sejarah bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk diingat, dihargai, dan dijadikan arah dalam melangkah menuju masa depan.***
Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow







































