Publikbogornews.com – Ibadah haji bukan hanya tentang menunaikan rangkaian ritual di Tanah Suci, tetapi juga perjalanan spiritual untuk menguji kesabaran, keikhlasan, dan kemampuan mengendalikan ego.
Hal itu disampaikan H. Ade Irawan, MM, Pengurus PCNU Kabupaten Bogor, dalam refleksinya mengenai makna haji.
Menurutnya, jutaan umat Islam mendambakan kesempatan berhaji, namun tidak semua yang mendapat panggilan Allah mampu menangkap hikmah di balik setiap proses yang dijalani.
“Puncak haji bukan hanya berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, tetapi pada bagaimana seseorang mampu merelakan keakuannya, bersabar dalam ujian, dan berbagi dengan sesama,” ujarnya.
Ade menjelaskan, wukuf di Arafah menjadi momentum terpenting karena seluruh jemaah melebur tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun asal negara.
Di tempat itulah keimanan, kesabaran, dan ketulusan diuji melalui berbagai situasi yang dihadapi selama berhaji.
Sementara itu, mabit di Muzdalifah dan Mina mengajarkan kerelaan untuk mengalah, disiplin, serta menjaga sikap di tengah keterbatasan fasilitas dan padatnya aktivitas jemaah.
Menurutnya, haji sejatinya merupakan latihan menjadi manusia yang lebih rendah hati. “Haji bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi proses mengubur ego, menumbuhkan kesabaran, dan memperkuat ketakwaan,” katanya.
Di akhir tulisannya, Ade berharap seluruh jemaah haji 2026 dapat membawa nilai-nilai yang diperoleh di Tanah Suci ke tengah kehidupan bermasyarakat, sehingga predikat haji mabrur tidak berhenti sebagai simbol, melainkan tercermin dalam perilaku sehari-hari.***
Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow







































