Beranda Berita Terkini Lebaran dan Kantong Kosong yang Kerap Dipaksa Terlihat Sultan

Lebaran dan Kantong Kosong yang Kerap Dipaksa Terlihat Sultan

Publikbogornews.com – Hari raya seharusnya menjadi momen kembali ke fitrah: sederhana, hangat, dan penuh makna.

Namun yang kerap tersaji justru pertunjukan ekonomi yang semakin hari terasa makin bising. Baju baru, hidangan melimpah itu masih bisa dimaklumi sebagai bentuk kebahagiaan.

Tapi ada satu fenomena yang mulai terasa ganjil: tradisi “bagi-bagi uang” yang berubah arah, dari berbagi menjadi ajang pembuktian diri.

Baca Juga :  MBG Tak Layak, Orang Tua Berhak Tuntut Perbaikan ke SPPG atau BGN

 

Bagi mereka yang berkecukupan, berbagi rezeki tentu bukan masalah. Bahkan itu indah. Tapi ironi muncul ketika yang pas-pasan ikut terseret arus, memaksakan diri demi terlihat “mampu”.

Uang yang seharusnya cukup untuk kebutuhan setelah Lebaran, justru habis demi menjaga gengsi sesaat.

Baca Juga :  Jadwal Pemagangan Nasional 2025 Batch 2 Resmi Diperbarui

Lebaran pun berubah, bukan lagi soal keikhlasan, tapi soal persepsi. Siapa memberi lebih banyak, siapa terlihat lebih “berhasil”.

 

Padahal di balik amplop-amplop itu, ada yang diam-diam menanggung cemas—bagaimana esok hari? Bagaimana ongkos kerja? Bagaimana menyambung hidup setelah euforia usai?

Inilah potret yang menohok. Kita seperti sedang merayakan kemenangan, tapi dengan cara yang justru mengalahkan diri sendiri.

Baca Juga :  Bupati Bogor Rudy Susmanto: Semua Warga Berhak Sampaikan Aspirasi Secara Damai

Sudah saatnya kita jujur, Lebaran bukan panggung untuk terlihat kaya. Ia adalah ruang untuk kembali sadar bahwa kesederhanaan tidak pernah memalukan, dan berbagi tidak harus memaksakan diri.

Sebab yang lebih menyedihkan dari tidak bisa memberi, adalah memberi dengan mengorbankan masa depan sendiri.***

Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakMenko Polkam Pantau Arus Mudik di Gambir dan Kampung Rambutan
Artikulli tjetërPemkab Bogor Pantau Harga, Kebutuhan Pokok Masih Stabil