Publikbogornews.com – Dinamika di tubuh organisasi kepemudaan nomor satu di Kabupaten Bogor kembali ramai diperbincangkan.
Klaim kepengurusan, saling merasa paling sah, hingga perdebatan yang tak kunjung selesai kembali menjadi tontonan publik.
Namun bagi sebagian orang, kegaduhan semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam dunia organisasi, apalagi yang penuh dengan ambisi dan panggung politik, klaim mengklaim sering kali lebih cepat muncul dibanding karya nyata.
Seperti yang diungkapkan Satya Sukma Nagara, peria kelahiran Bogor Barat melihat bahwa kegaduhan yang terjadi tidak perlu ditanggapi secara berlebihan.
Menurutnya, riuh rendah yang muncul biasanya berkisar pada tiga hal klasik yakni integritas, popularitas, dan isi kas.
“Tiga hal itu hampir selalu jadi latar belakang setiap kegaduhan organisasi. Ada yang bicara integritas, ada yang mengejar popularitas, dan ada juga yang ujung-ujungnya hanya soal isi kas,” ujar Satya.
Ia menyindir, publik sebenarnya tidak perlu terlalu repot memilah mana yang benar-benar berjuang untuk pemuda dan mana yang sekadar rajin tampil seolah paling idealis.
“Waktu biasanya jauh lebih jujur dibanding pidato dan konferensi pers. Cukup lihat saja rekam jejaknya. Siapa yang benar-benar bekerja untuk pemuda dengan karya nyata, siapa yang baru muncul tiba-tiba paling vokal demi panggung popularitas,” katanya.
Menurut Satya, dalam konflik organisasi, selembar kertas administrasi sering kali dijadikan senjata paling sakti untuk menghakimi pihak lain.
Padahal, kata dia, kertas bisa dibuat, disusun, bahkan diubah sedemikian rupa sesuai kebutuhan. Sebaliknya, integritas seseorang tidak bisa diproduksi di atas meja rapat.
“Cipta, rasa, dan karsa seseorang terlihat dari keselarasan antara ucapan, tindakan, dan jejak langkahnya. Itu yang tidak bisa direkayasa,” ujarnya.
Karena itu, pria yang akrab disapa Kang Satya menilai publik seharusnya menilai dengan sederhana yakni melihat siapa yang benar-benar bekerja dan berkarya selama ini.
“Yang saya tahu, kepengurusan organisasi nomor wahid di Kabupaten Bogor yang berjalan dan berkarya sejauh ini adalah kepengurusan Wahyudi Chaniago,” tegasnya.

Di tengah riuh organisasi yang kembali memanas, satu hal yang tampaknya pasti, pemuda Bogor masih menunggu lebih banyak kerja nyata daripada sekadar perang klaim dan kertas administrasi.***
Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow




































