Publikbogornews.com — Di Jalan Ace Tabrani, Kecamatan Nanggung, keselamatan rupanya masih bergantung pada keberuntungan. Pasalnya, lubang-lubang menganga di badan jalan bukan sekadar kerusakan biasa.
Ia seperti ujian harian bagi siapa pun yang melintas. Saat hujan turun dan genangan air menutupinya, jalan itu berubah menjadi permainan tebak-tebakan mana aspal, mana jebakan.
Seperti pada Sabtu sore, 28 Februari 2025, seorang pengendara Honda Vario kalah dalam “permainan” itu. Kaki kanannya patah. Tubuhnya terluka.

Ia mungkin hanya ingin pulang seperti biasa. Tapi yang sampai ke rumah lebih dulu adalah kabar kecelakaan.
Dan warga tahu, kejadian itu bukan yang pertama. Entah harus menunggu yang ke berapa agar kerusakan dianggap mendesak.
Padahal, jalan ini bukan gang sempit tanpa fungsi. Ia jalur ekonomi. Penghubung antar desa. Anak sekolah, pedagang, pekerja dan semua bergantung pada akses ini setiap hari.
Menariknya, jalan tersebut berada dalam kewenangan pemerintah daerah. Artinya, ada perencanaan. Ada program. Ada anggaran. Setidaknya di atas kertas. Namun di atas aspalnya, yang terlihat justru lubang.

Senin, 2 Februari 2026, warga Bogor Barat bersama Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) memilih untuk tidak menunggu keajaiban administrasi. Mereka turun dengan ember, semen, pasir hasil donasi.
Ya, dengan hasil donasi di tengah pembahasan pembangunan dan angka-angka miliaran dalam dokumen anggaran, warga dengan penghasilan pas-pasan justru patungan untuk menambal jalan umum. Sebuah ironi yang tak perlu diperjelas karena sudah terlalu jelas.
Mereka tidak berteriak. Tidak mengamuk. Mereka hanya bekerja diam-diam, menutup lubang yang seharusnya tak pernah dibiarkan selama ini.
Aksi ini bukan sekadar kritik. Ini sindiran paling halus yang pernah ada yakni ketika rakyat memperbaiki fasilitas publik dengan recehan.

Warga tidak menuntut berlebihan. Mereka hanya ingin satu hal sederhana yakni dapat pulang tanpa cedera. “Jika hari ini warga yang menambal jalan dengan dana seadanya, maka sejarah akan mencatat bahwa di Ace Tabrani, yang paling kuat bukanlah kekuasaan melainkan kesadaran,” ujar Supriyadi.
Ace Tabrani hari ini bukan hanya soal aspal rusak. Ia tentang prioritas yang tampak kabur. Tentang jarak antara kebutuhan nyata dan keputusan di meja rapat..***
Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow





































