Publukbogornews.com – Ramadhan terlalu sering kita perkecil menjadi sekadar rutinitas seperti sahur, buka, tarawih, tadarus, lalu selesai.
Seolah-olah ia hanya kalender ibadah tahunan yang datang dan pergi tanpa bekas dalam cara kita berpikir.
Padahal sejarah mencatat, wahyu pertama yang turun bukan perintah berperang, bukan perintah berkuasa, melainkan satu kata yang mengguncang peradaban yakni, iqra — bacalah.
Di titik itulah Ramadhan sejatinya bukan hanya bulan menahan lapar, tetapi bulan menghidupkan nalar. Bulan literasi. Bulan kesadaran.
Namun lihatlah hari ini. Di tengah hiruk-pikuk politik elektoral, banjir informasi digital, dan polarisasi media sosial, kita tidak hanya menghadapi krisis ekonomi atau moral. Kita sedang berada dalam krisis literasi publik.
Hoaks melaju lebih cepat daripada verifikasi. Emosi mengalahkan argumentasi. Identitas menggilas gagasan.
“Kita rajin berbagi tautan, tapi malas membaca isi. Kita cepat marah, tapi lambat memahami.” Jasinga, (16/2/2025). Ra Dien.
Di sinilah literasi Ramadhan harus dibaca sebagai jihad intelektual, perjuangan sunyi melawan kebodohan kolektif.
Ini bukan sekadar program membaca buku atau lomba resensi. Ini adalah gerakan sosial-politik yang hening namun strategis.
Sebab literasi melahirkan warga yang berpikir, dan warga yang berpikir sulit dimanipulasi.
Dalam khazanah Sunda, kita mengenal sawala, ruang musyawarah yang santun, rasional, dan beradab.
Jika Ramadhan dihidupkan dengan budaya sawala diskusi buku, kajian kritis, forum pemuda, bedah kebijakan publik maka majlis dan komunitas tak lagi sekadar ruang ritual, melainkan ruang pencerdasan.
Literasi mengajarkan tiga fondasi demokrasi diantaranya, Kemampuan memilah informasi dari propaganda, Keberanian menguji kebijakan tanpa kebencian, dan Kedewasaan menerima perbedaan tanpa kehilangan akal sehat.
Tanpa literasi, demokrasi mudah terseret populisme murahan. Tanpa literasi, agama mudah dijadikan komoditas politik.
Tanpa literasi, generasi muda hanya menjadi massa bukan pemikir, bukan pengarah.
Puasa melatih kita menahan diri dari lapar dan amarah. Literasi melatih kita menahan diri dari kesimpulan tergesa-gesa.
Jika keduanya bersatu, lahirlah warga yang tidak reaktif, tidak mudah diadu domba, dan tidak gampang dimobilisasi oleh narasi sesaat.
Karena itu, gerakan literasi Ramadhan harus berani menyentuh isu nyata ketimpangan sosial, korupsi, transparansi anggaran, masa depan pendidikan, hingga posisi pemuda dalam kebijakan publik.
Bukan untuk mempolitisasi agama, melainkan untuk membumikan nilai agama dalam ruang publik secara cerdas dan bermartabat.
Perlawanan sunyi itu bernama membaca. Membaca adalah perlawanan terhadap kebodohan. Menulis adalah perlawanan terhadap lupa. Berdiskusi adalah perlawanan terhadap otoritarianisme pikiran.
“Jika Ramadhan hanya berhenti pada seremoni, kita kehilangan momen revolusi kesadaran.”
Namun jika Ramadhan menjadi gerakan literasi, ia berpotensi melahirkan generasi yang bukan hanya saleh secara spiritual, tetapi juga matang secara sosial dan politik.
“Sebab bangsa yang kuat bukan hanya yang rajin berdoa, tetapi yang tekun berpikir.”
Dan mungkin, perubahan besar memang selalu lahir dari hal sederhana: sekelompok orang yang memilih membaca ketika dunia sibuk berteriak.***
Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow





































