Publikbogornews.com — Koordinator BEM Se-Tanah Air Wilayah Bogor Raya, Habib, menyoroti langkah pemulihan yang dilakukan PTPN Nusantara IV Distrik Jawa Barat-Banten pasca tercemarnya Sungai Cidurian akibat bocornya IPAL PKS Cikasungka pada 16 April 2026 lalu.
Menurut Habib, upaya yang dilakukan sejauh ini masih lebih berfokus pada perbaikan teknis IPAL dan antisipasi kebocoran di masa mendatang, bukan pada pemulihan ekosistem alam yang telah rusak akibat pencemaran.
Ia menyebut, perwakilan anggota DPR RI yang hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Iksan, sempat menawarkan sejumlah program yang lebih mengarah pada langkah antisipatif agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Namun, kata Habib, hal paling mendasar yang harus dipikirkan perusahaan adalah tanggung jawab nyata dalam mengembalikan kondisi alam yang telah terdampak.
“Yang perlu ditekankan bukan soal perbaikan IPAL dan antisipasi kebocoran di masa datang. Karena itu memang sudah jadi tanggung jawab mereka sejak awal berdiri,” tegas Habib.
Menurutnya, pengembalian ekosistem sungai tidak bisa diselesaikan hanya lewat seremoni penebaran benih ikan dalam satu hari kegiatan.

“Tapi tentang bagaimana upaya pemulihan ekosistem alam yang sudah rusak akibat longsornya IPAL. Itu harus kontinyu untuk beberapa waktu ke depan, karena pengembalian ekosistem tidak semudah kegembiraan seremonial,” ujarnya.
Habib juga mempertanyakan efektivitas penebaran 10 ribu benih ikan nila dan tawes yang dilakukan perusahaan.
Sebab, kata dia, ikan-ikan yang mati akibat pencemaran merupakan bagian dari kekayaan sumber daya alam yang telah tumbuh lama secara alami.
“Coba lihat dan bandingkan ikan-ikan yang sudah mati. Itu ikan-ikan yang sudah berproses panjang dan susah dibudidayakan. Kita juga harus kalkulasi, berapa persen ikan yang ditebar sekarang benar-benar bisa hidup menggantikan ikan-ikan yang sudah mati,” katanya.
Ironisnya, di tengah agenda pemulihan lingkungan tersebut, awak media justru mendapati sejumlah kantong benih ikan dibawa ke beberapa kolam pribadi, bukan seluruhnya ditebar ke sungai yang tercemar.
“Sementara dari benih yang tadi saja ada beberapa kantong yang diduga dibawa ke kolam-kolam pribadi,” ucap Habib.
Ia pun meminta agar pihak-pihak yang menjadi penanggung jawab distribusi benih ikan di masing-masing kampung ikut dievaluasi agar praktik serupa tidak kembali terjadi.
“Jadi patut disorot juga siapa saja yang menjadi penanggung jawab dari masing-masing kampung. Biar kelakuan kerdil seperti itu tidak terulang lagi,” pungkasnya.
Diketahui, hampir sebulan setelah insiden bocornya IPAL PKS Cikasungka milik PTPN Nusantara yang menyebabkan ribuan ikan mati di sepanjang hilir Sungai Cidurian, PTPN Nusantara IV Distrik Jawa Barat-Banten menggelar kegiatan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di Desa Kalongsawah, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jumat 9 Mei 2026.
Dalam kegiatan tersebut, perusahaan menebar 5.000 benih ikan nila dan 5.000 benih ikan tawes ke Sungai Cidurian dan Cikalong sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan.
Manager PKS Cikasungka, Alfi Andrianto, mengatakan penebaran benih dilakukan untuk membantu memperbaiki ekosistem sungai yang terdampak limbah IPAL.

“Mudah-mudahan dengan penyebaran bibit yang kita berikan di Sungai Cidurian-Cikalong bisa memperbaiki ekosistem air yang kemarin telah terdampak dengan longsornya kolam IPAL di PKS Cikasungka,” ujar Alfi.
Selain penebaran benih ikan, perusahaan mengklaim telah melakukan perbaikan instalasi air bersih di dua kampung terdampak dengan anggaran sementara sekitar Rp35 juta.
“Kurang lebih yang sudah terealisasi sekitar Rp35 juta. Itu sementara untuk kondisi urgennya,” jelas Alfi.
Namun hingga kini, pihak perusahaan belum dapat memastikan total anggaran pemulihan lingkungan secara keseluruhan dan masih menunggu hasil kajian tim internal terkait tingkat kerusakan yang harus diperbaiki.***
Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow








































