Beranda Berita Terkini Mengenal Kasepuhan dan Istilah Pancer Mandiri dan Pancer Pangawinan

Mengenal Kasepuhan dan Istilah Pancer Mandiri dan Pancer Pangawinan

Mengenal Kasepuhan dan Istilah Pancer Mandiri dan Pancer Pangawinan

Publikbogornews.com – Di tengah keberagaman masyarakat adat Kasepuhan di Jawa Barat, terdapat dua corak utama yang menjadi fondasi identitas dan cara pandang hidup, yakni Pancer Pangawinan dan Pancer Mandiri.

Keduanya lahir dari akar sejarah yang sama, namun tumbuh dengan arah yang berbeda dalam menyikapi kekuasaan, menjaga tradisi, dan merespons perubahan zaman.

Mengenal Kasepuhan dan Istilah Pancer Mandiri dan Pancer Pangawinan

Pancer Pangawinan dikenal sebagai representasi keteraturan dan kesinambungan adat yang kuat, berakar dari struktur lama yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual.

Sementara itu, Pancer Mandiri mencerminkan sikap otonom dan fleksibel, hadir sebagai bentuk kemandirian komunitas dalam mempertahankan tradisi tanpa terikat pada kekuatan politik tertentu.

Perbedaan ini bukanlah sekadar pemisah, melainkan dua strategi hidup yang saling melengkapi, menunjukkan bagaimana kearifan lokal mampu bertahan, baik melalui keteguhan menjaga warisan, maupun kelenturan dalam beradaptasi dengan zaman.

Karena keduanya lahir dari konteks yang sama berupa warisan tradisi Sunda lama namun berkembang dengan orientasi sosial dan filosofis yang berbeda.

Pancer Pangawinan: Representasi Keteraturan dan Kesinambungan Tradisi

Pancer Pangawinan dapat dipahami sebagai kelompok yang memiliki garis historis lebih terstruktur, dengan akar kuat pada sistem kekuasaan masa Kerajaan Pajajaran di bawah figur legendaris Prabu Siliwangi.

Baca Juga :  Wamen ATR/BPN Lepas 619 Taruna STPN untuk KKN Pertanahan

Istilah “pangawinan” sendiri merujuk pada konsep penyatuan atau pengawalan keseimbangan bukan hanya dalam konteks militer, tetapi juga dalam menjaga harmoni kosmologis.

Secara historis, kelompok ini diyakini berasal dari barisan pengawinan, yakni pasukan khusus yang tidak hanya bertugas menjaga keamanan kerajaan, tetapi juga melindungi nilai-nilai adat.

Dari sini terlihat bahwa Pancer Pangawinan tidak hanya berfungsi sebagai entitas sosial, tetapi juga sebagai penjaga legitimasi tradisi.

Filosofi utama mereka berakar pada prinsip dualitas harmonis: dua kekuatan yang berbeda tidak untuk saling meniadakan, melainkan untuk berjalan beriringan.

Ini tercermin dalam praktik kehidupan sehari-hari yang sangat terikat pada siklus alam, khususnya budaya padi. Padi tidak sekadar komoditas, melainkan simbol kehidupan, spiritualitas, dan identitas.

Di sana, tata kelola adat masih sangat ketat, dengan struktur kepemimpinan yang jelas serta ritual-ritual yang dijaga secara turun-temurun tanpa banyak perubahan.

Pancer Mandiri: Otonomi, Adaptasi, dan Fleksibilitas Sosial

Berbeda dengan Pancer Pangawinan, Pancer Mandiri lahir dari sikap historis yang lebih independen. Dalam konteks konflik kekuasaan di masa lalu, kelompok ini memilih untuk tidak berpihak pada kekuatan politik manapun.

Baca Juga :  Bahasa Indonesia Resmi di Vietnam? Ini Faktanya! 🇮🇩

Sikap ini bukan bentuk pasif, melainkan strategi bertahan—sebuah pilihan sadar untuk menjaga otonomi komunitas di tengah tarik-menarik kepentingan kerajaan.

Istilah “mandiri” di sini mengandung makna kedaulatan sosial, mereka tidak bergantung pada struktur pusat seperti pangawinan, dan tidak mengikatkan diri pada satu garis legitimasi kekuasaan tertentu.

Akibatnya, pola kehidupan mereka cenderung lebih fleksibel dan adaptif.

Dalam praktiknya, Pancer Mandiri tetap menjaga adat, tetapi dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Mereka mampu mengakomodasi perubahan sosial tanpa kehilangan identitas dasar.

Ini membuat mereka relatif lebih terbuka terhadap dinamika zaman, termasuk interaksi dengan dunia luar dan relasi antara pemimpin adat dan masyarakat juga cenderung lebih cair.

Perbedaan Kunci dalam Perspektif yang Lebih Luas: Jika ditarik ke level konseptual, perbedaan keduanya bisa dirangkum dalam tiga dimensi utama:

1. Sejarah dan Legitimasi

Pancer Pangawinan memiliki legitimasi yang bersandar pada struktur kerajaan dan peran historis sebagai penjaga adat.

Pancer Mandiri justru membangun legitimasi dari sikap independensi dan keberhasilan menjaga komunitas tanpa afiliasi kekuasaan.

Baca Juga :  Mudik Bersepeda, Jeni Tempuh Empat Hari dari Rangkasbitung ke Purbalingga

2. Relasi terhadap Kekuasaan

Pancer Pangawinan cenderung memiliki hubungan simbolik dengan pusat kekuasaan lama. Sebaliknya, Pancer Mandiri menempatkan diri di luar orbit kekuasaan tersebut.

3. Pendekatan terhadap Tradisi

Pancer Pangawinan bersifat konservatif menjaga tradisi secara ketat dan konsisten. Pancer Mandiri lebih adaptif dan mempertahankan esensi, tetapi memberi ruang pada perubahan.

Penutup: Dua Jalan, Satu Akar

Meski berbeda, keduanya tidak bisa dipertentangkan secara simplistik. Pancer Pangawinan dan Pancer Mandiri justru menunjukkan dua strategi bertahan masyarakat adat dalam menghadapi perubahan zaman, satu melalui keteguhan menjaga struktur, yang lain melalui kelenturan beradaptasi.

Keduanya berangkat dari akar yang sama, kearifan lokal Sunda, dan sama-sama berperan penting dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya di tengah modernisasi yang terus bergerak.***

Jasinga 7 Mei 2026, ditulis oleh Ra Dien, generasi Ke-4 dari Embah Muhyiddin Parungsapi. Embah Muhyiddin Parungsapi adalah Ayahanda dari K. H. Abdul Muhyi, Wedana Pertama Jasinga.

Disclaimer: Artikel ini sejatinya masih dalam kajian lebih dalam, dan penulis masih sangat terbuka untuk menerima saran dan masukan karena keterbatasan data dan informasi yang ada.”””

Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakBupati Bogot Rudy Susmanto Dorong Peran Notaris dan PPAT Optimalkan PAD Bogor
Artikulli tjetërPeralihan Arsip Pertanahan Elektronik Jadi Keniscayaan, Sekjen ATR/BPN Tekankan Pengelolaan Akuntabel