Publikbogornews.com — Ketika negara terkesan lamban, pemuda memilih bergerak. Bukan berteriak di media sosial, bukan pula menciptakan kegaduhan, tetapi patungan dan menambal lubang di ruas Jalan Nasional Jasinga–Leuwiliang, Sabtu (20/02/2026).
Aksi yang digerakkan Forum Komunikasi Bumi Putra Bogor Barat ini menjadi potret getir tentang koherensi sosial, relasi antara kewajiban negara dan partisipasi rakyat yang seharusnya saling menguatkan, bukan saling menutup celah.

Dengan alat seadanya, para pemuda menutup lubang yang selama ini mengancam keselamatan pengendara. Kerusakan jalan kerap memicu kecelakaan, diperparah minimnya penerangan jalan umum pada malam hari.
Ruas tersebut adalah akses vital menuju sekolah, rumah sakit, pasar, hingga pusat layanan publik.

Secara hukum, tanggung jawab itu jelas. UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan menegaskan perbaikan jalan nasional merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Ditjen Bina Marga dan balai pelaksana jalan nasional.
Namun di lapangan, warga menilai respons belum sebanding dengan urgensi risiko. Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, para pemuda menyampaikan pesan yang lebih dalam dari sekadar tambalan aspal.

“Kalau pemuda bisa patungan demi menutup lubang, mengapa negara belum hadir sepenuhnya?” ujar salah satu koordinator aksi.
Ia menegaskan, gerakan ini bukan ekspresi kebencian, melainkan sindiran edukatif. “Ini bukan soal menyerang. Ini pengingat tentang pentingnya koherensi sosial antara negara dan rakyatnya.”

Bagi mereka, infrastruktur bukan sekadar proyek dan angka serapan anggaran. Ia adalah wajah kehadiran negara.
Ketika warga harus menambal sendiri jalan nasional, pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah, melainkan seberapa utuh komitmen sosial kita sebagai bangsa.

Para pemuda mendesak perbaikan menyeluruh, bukan tambal sulam sementara. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan, melainkan nyawa.***
Ikuti saluran Publikbogornews.com di WhatsApp Follow





































