Publikbogornews.com – Jauh sebelum uang kertas, logam, hingga transaksi digital dikenal dunia, sejumlah peradaban justru mengandalkan kerang sebagai alat tukar resmi.
Cowrie shells tercatat menjadi salah satu mata uang paling lama digunakan dalam sejarah—bertahan hingga 4.000 tahun.
Kerang digunakan di berbagai kawasan, mulai dari Asia, Afrika, Kepulauan Pasifik, India, hingga Cina.
Nilainya dianggap tinggi karena bentuknya yang indah, ukuran seragam, tahan lama, serta mudah dihitung.
Tak heran banyak masyarakat kuno menganggap kerang sebagai benda alami sekaligus suci, sehingga cocok menjadi standar ekonomi.
Di Afrika Barat, kerang menjadi acuan pembayaran pada perdagangan besar seperti emas, kain, dan rempah.
Sementara di Asia, kerang bahkan menjadi alat transaksi resmi di berbagai kerajaan, lengkap dengan sistem pajak berbasis kerang.
Lebih dari sekadar alat tukar, kerang juga menjadi simbol status.
Di sejumlah suku Polinesia dan Melanesia, kepemilikan kerang langka menandakan kekayaan, kekuasaan, hingga menjadi bagian dari mas kawin dalam tradisi pernikahan.
Meski kini tak lagi digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, jejak historis kerang menunjukkan satu hal nilai uang selalu berangkat dari kesepakatan manusia.
Bentuknya berubah, namun prinsipnya tetap sama. Dari kerang hingga era koin digital, perjalanan uang mencerminkan evolusi peradaban dunia.***

































