Publikbogornews.com – Fenomena tenggelamnya kota bukan lagi sekadar cerita fiksi. Sejumlah kota besar di dunia kini tercatat mengalami penurunan permukaan tanah secara perlahan namun konsisten, dengan dampak yang kian nyata dari tahun ke tahun.
Penyebab utama kondisi ini adalah penurunan tanah (land subsidence) akibat pengambilan air tanah berlebihan.
Ketika cadangan air bawah tanah terus disedot, struktur tanah kehilangan penopang dan perlahan amblas. Kota-kota padat penduduk menjadi wilayah paling rentan terhadap fenomena ini.
Jakarta menjadi salah satu contoh paling mengkhawatirkan, dengan tingkat penurunan tanah mencapai 10 hingga 25 sentimeter per tahun di sejumlah kawasan.
Kondisi serupa juga dialami Venice di Italia, Bangkok di Thailand, Shanghai di Tiongkok, hingga New Orleans di Amerika Serikat. Ancaman ini bukan proyeksi masa depan, melainkan sedang berlangsung saat ini.
Situasi diperparah oleh kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim global. Mencairnya es di kutub meningkatkan volume air laut dan menempatkan kota-kota pesisir di garis depan risiko bencana.
Meski teknologi dan pembangunan tanggul dapat memperlambat dampak, solusi tersebut dinilai belum mampu menghentikan ancaman sepenuhnya.
Para ahli mengingatkan, tanpa penanganan serius dan perubahan kebijakan tata kelola lingkungan, sejumlah kota besar dunia berpotensi tidak lagi layak huni dalam beberapa dekade mendatang.
Tenggelamnya kota menjadi peringatan keras bahwa krisis ini bukan semata persoalan alam, melainkan juga akibat dari perencanaan manusia yang mengabaikan keseimbangan lingkungan.***







































