Publikbogornews.com – Jose “Pepe” Mujica—mantan Presiden Uruguay (2010–2015)—adalah anomali di dunia politik modern.
Di saat banyak pemimpin identik dengan kemewahan, ia justru memilih hidup sebagai petani tua dengan pakaian lusuh, rumah sederhana, dan penghasilan yang sebagian besar ia berikan untuk orang miskin.
Mujica lahir pada 20 Mei 1935 di Montevideo dari keluarga sederhana. Masa mudanya penuh gejolak: ia bergabung dengan gerilyawan kiri Tupamaros yang menentang rezim militer.
Perjuangan itu membuatnya ditembak enam kali dan dipenjara selama 14 tahun—dengan dua tahun dihabiskan dalam isolasi di sumur bawah tanah. Namun dari sanalah lahir filosofi Mujica: hidup sederhana, anti-keserakahan, dan selalu berpihak pada rakyat kecil.
Setelah demokrasi dipulihkan, Mujica meninggalkan perjuangan bersenjata dan masuk politik formal.
Ia menjadi deputi, senator, hingga menteri, sebelum akhirnya terpilih sebagai Presiden Uruguay pada 2009 melalui koalisi kiri Frente Amplio.
Julukan “Presiden Termiskin di Dunia” melekat padanya bukan karena negara miskin, tetapi karena pilihan hidupnya. Ia:
Menyumbangkan 90% gaji presiden—sekitar USD 12.000 per bulan—untuk program perumahan rakyat dan usaha kecil.
Menolak tinggal di istana negara, memilih rumah peternakan kecil berlantai tanah bersama istrinya, Lucía Topolansky.
Mengendarai mobil Volkswagen Beetle tua, satu-satunya kendaraan pribadinya.
Gaya hidup ini bukan pencitraan, melainkan konsekuensi filosofi yang ia pegang: “Jika kamu tidak hidup seperti yang kamu katakan, maka kamu tidak mengatakan apa-apa.”
Pepe Mujica menjadi pengingat bahwa jabatan tidak harus mengubah manusia, dan kekuasaan tidak selalu harus berjalan berdampingan dengan kemewahan. Kadang, justru kesederhanaanlah yang paling menuai hormat.**

































